Memamah Makna Makan: Kritik Karya Dwi Januartanto

PS. Tulisan ini mulanya sebagai tanggung jawab saya menulis kritik serius setelah mendapatkan kelas kritik seni rupa yang dilaksanakan oleh Kolektif Kecoa Timur, 2021.

Dwi Januartanto

Eat Pray Love (2019)

Readymade plastic sacks & ropes

100 x 180 cm

Tahun 2019, publik seni, tak terbatas pada publik seni rupa, sempat digemparkan oleh Dwi Januartanto (selanjutnya disebut Januar) atas karyanya yang berjudul Eat Pray Love yang meraih gold winner di ajang seni rupa bergengsi, UOB Painting of the Year 2019. Publik seni heran sekaligus bertanya-tanya, mengapa karya seni berbahan tiga sak besar ditumpuk satu sak kecil dengan dirajut menggunakan tali rafia membentuk tipografi yang memancing ingatan kolektif terhadap suatu band bisa mendapat sorot lampu? Untuk menjawabnya, mari kita kupas dalam porsi empat sehat lima sempurna agar kiranya kita mampu memamahnya dengan perlahan.

Santapan pertama, tulisan Makan Makna. Meski terasa bermain-main pada bentukan kata majemuk tersebut, Januar benar-benar mempertimbangkan lewat permainan anagram dari muasal kata /makan/ menjadi /makna/. Jika /makna/ diletakkan di depan /makan/, maka tentu beda interpretasinya karena /makan/ posisinya menerangkan /makna/ sehingga, untuk pengaplikasiannya, kita bisa menambahkan kata tanya pada awal kata majemuk tersebut: (apa) makna makan? Lain soal jika Januar bermain palindrom sehingga terbentuk kata majemuk menjadi /makan nakam/, interpretasinya akan bergeser ke pola dialek bahasa Malangan atau bahasa Walikan. 

Itulah sebabnya, Januar memilih menggunakan kata majemuk /makan makna/ sehingga jika kita menambahkan kata tanya pada awal kata majemuk itu akan menjadi: (bagaimana) makan makna? Dari pola kata majemuk tersebut bermetamorfosis, tidak sebatas pada ruang puitik, menjadi wacana besar yang bersinggungan dengan medan pangan dan kultural di negara ini.

Lebih dari itu, letaknya yang tepat di tengah serta dicetak tebal merah sangat menarik perhatian saat kali pertama melihat karya tersebut. Januar sengaja menjadikan “Makan Makna” sebagai point of interest. Ada dua sikap Januar dalam karya ini. Pertama, dia menempatkan diri sebagai “koki” yang menghidangkan makna dari bahan sederhana namun bernas. Di sisi ini, tugasnya sebagai seniman dianggap selesai karena sebatas membuat karya. Perkara interpretasi, dikembalikan ke khalayak. Di sisi kedua, Januar memasak untuk mengajak publik bersantap bersama, baik secara visual maupun teks. Di sisi ini, sepatutnya Januar terus memproduksi wacana yang terkandung di dalam karya tersebut. Alternatifnya, kita bisa menunggu karya Januar selanjutnya yang masih mengangkat sekaligus mengkritisi pangan. Dia juga perlu mengundang beberapa praktisi maupun akademisi untuk meninjau atau berpijak dari karya tersebut dari berbagai segmen: pertanian, kesenian, dan perusahaan pangan. Kiranya perlu dilakukan karena Januar terlanjur mengkritisi ekosistem pangan sekaligus memancing ingatan kolektif dengan hadirnya reduplikasi tipografi Metallica yang dibahas pada santapan kedua.

Santapan kedua, tipografi Metallica. Hadirnya tipografi tersebut bukan tanpa sebab dan tanpa pertimbangan matang. Januar menggunakan ingatan kolektif perihal logo band tersebut, alih-alih konteks pada lagu-lagu Metallica, sehingga publik langsung terhubung dan bergumam: Oh, ini mirip (logo) Metallica. Brand image pada Metallica sangat kuat pada ranah global. Lain soal jika Januar menggunakan tipografi band lainnya, seperti Slank, The Beatles, Megadeth, AC/DC, Queen, Rolling Stones, dan band serupa dengan brand image yang sudah puluhan tahun mengakar kuat. Pilihan jatuh pada Metallica terkait juga pada rajutannya yang menyerupai aktivitas grafiti dan mengarah pada vandalisme. Apa yang hendak dikritisi oleh Januar? Lebih lanjut, kita bergeser ke santapan ketiga.

Santapan ketiga, vandalisme. Januar mentransformasi coretan cat menjadi rajutan. Dilihat lebih jauh, rajutan tersebut identik dengan coretan bergaya wildstyle yang dilakukan oleh bomber ketika sedang mencoret tembok tepi jalan. Namun, Januar punya ideologis untuk mengkritisi pangan, tidak sekadar merajut di setumpuk karung bekas. Lewat penelusuran lebih lanjut, ditemukan laporan bahwa adanya ketimpangan kebutuhan jagung impor dengan citra Indonesia yang dikenal sebagai negara agraris. 

Pada Indonesia Grain and Annual Report 2019 disebutkan bahwa area panen diperkirakan mencapai 3,7 juta hektar pada 2018-2019 dan terus berkembang menjadi 3,9 juta hektar pada 2019/20 karena petani menganggap jagung lebih menguntungkan dibandingkan tanaman lain. Pembatasan jagung impor tetap berlaku untuk penggunaan pakan, meskipun karena harga yang tinggi di akhir 2018, Indonesia sementara mengizinkan impor jagung untuk pakan. Impor Jagung 2018-2019 diperkirakan mencapai 850.000 ton. Jika ditarik pada cakupan yang lebih luas, pada Indeks Keberlanjutan Pangan atau Food Sustainability Index (FSI) yang dilakukan oleh The Economist Intelligent Unit (EIU) dan Barilla for Food and Nutrition (BCFN) di tahun 2021, posisi Indonesia berada di peringkat 69 dari 113 negara, berada di atas Afrika Selatan (70) dan India (71) serta di bawah Honduras (68) dan El Salvador (67). Rumput tetangga memang lebih hijau terbukti pada Malaysia yang menempati peringkat 39 dan Singapura jauh di atasnya, yakni peringkat 15. Laporan tersebut berbanding terbalik dengan glorifikasi Indonesia sebagai negara agraris pada Katadata.co.id yang menyebutkan bahwa Indonesia memiliki hasil pertanian (dan perkebunan) yang melimpah dengan beberapa di antaranya: karet, kopi, dan kelapa sawit. Nyatanya, pada tahun 2021 (atau bahkan sampai tulisan ini dibuat), kita malah mengalami krisis minyak goreng di negeri kelapa sawit. Itulah sebabnya, Januar memasang cetak tebal non subsidi sebagai bayang-bayang pangan di negeri ini. 

Yang perlu kita sadari, kebutuhan impor dan ekspor tidak sebatas pada supply and demand suatu komoditas, namun juga dipengaruhi kebijakan politis, hubungan diplomasi dua negara, dan pertimbangan lain yang sulit kita jangkau. Terkait karya Januar, adanya migrasi narasi dari ruang global ke ruang lokal, terlihat pada tipografi Metallica yang menindih lele sebagai local icon Lamongan sebagai domisili Januar, seperti komoditas impor-ekspor yang tengah dia kritisi. Dari segi bahan materi, kita bisa melihat adanya narasi besar yang dia usung dengan (hanya) berbahan sak bekas. Lebih lanjut, kita bahas pada santapan keempat.

Santapan keempat, found object. Kedekatan Januar terhadap dunia pertanian cukup menguntungkan untuk posisinya sebagai seniman. Dia memilah dan memasang empat sak bekas sehingga muncul estetika tersendiri, terlepas dari ‘an sich’ pada karung tersebut. Januar pasrah dan percaya pada nilai estetika kapital di karung (berupa karung bubur jagung, non subsidi, pakan lele, dan pakan ayam) sehingga dia cukup menyusun dengan pertimbangan gradasi warna kuning dengan disambungkan /Makan Makna/ yang juga termasuk sebagai found object. Januar juga berhasil membalikkan paradigma perihal karung bekas di lingkungan kita untuk mengisi barang tak bernilai menjadi karya seni adiluhung yang tak ternilai harganya. Perpindahan nilai ini mengubah materi dari semula material yang disia-siakan menjadi karya yang bahkan tak boleh disentuh langsung oleh publik.

Publik tentu selalu menyebut dengan karya Makan Makna, bukan lagi menyebut judul karyanya. Lalu, apa korelasi judul dengan karya? Mari kita bahas sekaligus sebagai hidangan penutup. 

Santapan kelima, korelasi judul dengan karya. Makan berdoa cinta, begitulah setelah diterjemahkan. Ditelisik lebih dalam, Januar hendak menyematkan pesan lewat judul karya dengan dijembatani teori psikoanalisis Freud. Makan merujuk pada aktivitas id, yang mana id ini untuk pemenuhan kebutuhan alamiah manusia. Sebagai contoh: makan, minum, dan seks. Berdoa bisa merujuk pada aktivitas superego, yang mana superego berkutat pada pemenuhan kebutuhan berdasarkan norma dan nilai pada suatu masyarakat. Sebagai contoh, kita berpuasa (sebagai umat muslim) karena keluarga juga berpuasa. Sedangkan, cinta bisa merujuk pada id, ego, dan superego. Dalam artian, selain sebagai kebutuhan alamiah manusia, cinta sebagai ego juga bisa menahan kebutuhan id agar dapat diterima secara sosial oleh individu lain. Contohnya, pacaran. Di tingkat lanjut, cinta sebagai superego bisa bertransformasi mengikuti norma yang dianut suatu masyarakat. Contohnya, menikah.

Secara serius, Januar hendak menyampaikan pesan bahwa makan tidak hanya sebagai aktivitas pemenuhan kebutuhan alamiah, namun juga sebagai aktivitas yang menyangkut sosial, mulai dari intimasi, reuni, bahkan tradisi yang berhubungan dengan kelahiran, pernikahan, dan kematian. Oleh karena itu, sepatutnya, pangan sebagai komoditas juga turut dan terus ditinjau secara kritis perihal ketahanannya. Semoga kenyang tetap bertahan.

Surabaya, 2022


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *