(Tulisan ini menjadi pengantar pada pameran yang dihelat oleh Serbuk Kayu yang dibuka tanggal 17 Januari-17 Februari 2026. Kalian juga bisa turut memeriahkannya dengan mengirimkan karya, pertunjukan, dan hal-hal lainnya. Bisa dihubungi admin Serbuk Kayu untuk info lebih lanjut.)
Masih ingat fenomena Harlem Shake, sekitar 13 tahun silam?
Ketika satu orang––dari sekelompok orang yang hanya diam maupun beraktivitas biasa––mengenakan penutup kepala, entah itu helm, topeng Angry Bird, maupun topeng-topeng kepala yang mencolok, bergerak acak sendirian. Sekitar 16 detik kemudian, setelah ketukan dan nada lagu Harlem Shake karya Baauer berganti, sejak saat itu, mulai ada transisi. Sekelompok orang mulai bergerak acak, mengabaikan segala macam aturan. Orang yang pertama tampil bukan lagi menjadi pusat perhatian, tapi semua orang juga menjadi pusat perhatian, membentuk pusaran perhatian yang kacau, tanpa memiliki pusat.
Gelombang tarian Harlem Shake pernah memperlihatkan bagaimana sebuah ekspresi kultural dapat menyebar secara cepat, tidak terpusat, dan sulit diprediksi. Banyak orang pun lantas mengekor, mereplikasinya bersama teman-teman selingkungnya, tanpa otoritas tunggal yang mengatur arah atau maknanya. Fenomena tersebut menandai pergeseran cara karya beredar, dari pola kurasi ketat menuju partisipasi terbuka yang bergantung pada momentum, konteks, dan keterlibatan kolektif.
Apakah kemudian, gejala semacam Harlem Shake––meskipun gaungnya sudah menjadi senyap––sudah tidak bisa kita temui lagi?
Masih ada dalam bentuk yang berbeda. Media sosial telah menggeser stereotip bahwa hanya orang tertentu bisa menjadi pusat, menjadi semua orang bisa menjadi pusat. Mereka bisa tumbuh sebagaimana mestinya, menguatkan diri di tengah-tengah jalur yang hampir tidak mengenal batasan yang kaku karena pencipta dan penikmat bisa menjadi cair. Setiap orang dapat mengambil peran sesuai situasi yang dihadapinya.
Pola serupa dapat dibaca dalam proses alamiah persebaran jamur lepista nebularis atau jamur barat. Jamur ini tidak tumbuh berdasarkan rancangan yang rapi, melainkan melalui penyebaran spora yang menemukan kondisi lingkungan tertentu. Kehadirannya sering kali muncul tak serentak, berpindah dari satu titik ke titik lain, lalu membentuk jejaring yang tidak selalu kasatmata. Mekanisme tersebut seakan memperlihatkan bahwa pertumbuhan tidak selalu bergantung pada kestabilan tempat atau hal-hal yang mengukurnya secara ketat, tetapi pada kemungkinan pertemuan antara potensi dan situasi yang mendukung, yang justru hitungan matematisnya sulit dijabarkan.
Dua fenomena tersebut menghadirkan pemahaman tentang gerak yang acapkali acak, replikasi, dan ketakterdugaan sebagai bagian dari dinamika budaya. Karya dan praktik kultural tidak selalu hadir dari ruang yang mapan, melainkan dari perlintasan berbagai jalur yang saling bersinggungan. Potret kultur yang lebih dekat dengan akar rumput terlihat lebih acak. Contohnya, pasar malam dan car free day yang memperlihatkan posisi pedagang yang lebih cair. Ada pedagang yang memiliki stan tetap, tetapi bisa tutup lebih cepat dari waktunya. Ada juga pedagang asongan yang mengikuti arus pengunjung, seakan mereka juga bagian dari pengunjung itu sendiri. Fenomena tersebut juga kita dapati pada potret bus kota maupun kereta api, 15 tahun yang lalu. Pedagang asongan silih-berganti masuk menjajakan doa, tasbih, buku, pulpen, yang juga sementara menjadi penumpang sampai pemberhentian berikutnya.
Kerangka berpikir itulah yang menjadi dasar pameran Simpang-Siur Jalur ini. Pameran ini menempatkan kesenian sebagai peristiwa yang bergerak, dengan susunan karya yang beberapa di antaranya tidak bersifat permanen sepanjang pameran berlangsung karena terus mengalami perputaran yang acak dari hari ke hari. Setiap kunjungan pun membuka kemungkinan perjumpaan dengan bentuk yang berbeda. Pengunjung pun seakan diajak untuk berkunjung lagi karena tawaran perbedaan karya yang terpampang dan keacakan yang tak disangka. Dengan kata lain, pameran ini tidak diposisikan sebagai etalase statis, melainkan sebagai ruang yang terus membentuk ulang dirinya sendiri.
Ragam mode kehadiran menjadi poin andalan sekaligus berbeda dalam pameran ini. Sejumlah seniman akan menampilkan karya yang dapat diakses sepanjang durasi pameran, sementara yang lain hadir melalui penampilan langsung yang muncul tanpa pola waktu yang tetap, semisal live mural. Ada juga karya yang hanya singgah sementara, mungkin hanya beberapa hari, lalu memberi ruang bagi karya lain untuk tampil. Ketakterdugaan ini menjadi bagian dari pengalaman estetik yang ditawarkan, sekaligus mendorong pengunjung untuk kembali, mengalami perubahan yang terjadi. Pengunjung juga tidak selalu dibatasi dan sebatas diposisikan sebagai pengunjung pasif, melainkan juga bisa turut andil sebagai bagian dari partisipan sebuah karya. Barangkali ada karya yang demikian. Kita sama-sama tidak bisa menebak karya apa saja yang akan ditampilkan. Atau, mungkin, pengunjung ingin menawarkan karyanya ditampilkan. Peluang itu terbuka lebar-lebar.
Melalui pertautan antara fenomena budaya populer, praktik ruang publik, dan potret kultur akar rumput, Pameran Simpang-Siur Jalur ini menawarkan kesenian sebagai jaringan perlintasan yang lentur. Karya hadir, berpindah, dan berinteraksi dalam jalur yang terbuka, memungkinkan siapa pun untuk berkarya atau sebatas mengapresiasi pun tak jadi soal. Dalam gerak dan bentuk yang lentur, pameran ini tidak hanya berhenti pada identitas tema yang mengungkung, tetapi lebih kepada pameran yang terus mengalami dan proses menjadi. Suatu titik yang sulit ditemukan pusatnya.
Tinggalkan Balasan